iLearning OK!!!

Just another iMe (iLearning Media) site

By

Essay: Tugas 5

Hukum Bunga Bank Dalam Pandangan Islam

Dalam Al-Quran, hukum melakukan riba sudah jelas dilarang Allah SWT. Begitupun dengan bunga bank, dalam praktiknya sistem pemberian bunga di perbankan konvensional cenderung menyerupai riba, yaitu melipatgandakan pembayaran. Padahal dalam islam hukum hutang-piutang haruslah sama antara uang dipinjamkan dengan dibayarkan. (Baca juga: Pinjaman Dalam Islam- Hukum dan Ketentuannya dan Hutang Dalam Pandangan Islam)

Pandangan ini sesuai dengan penjelasan Syaikh Sholih bin Ghonim As Sadlan. Beliau menjelaskan dalam kitab fiqihnya yang berjudul “Taysir Al Fiqh”, seorang Mufti Saudi Arabia bernama Syaikh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah mengemukakan bahwa pinjaman yang diberikan oleh bank dengan tambahan (bunga) tertentu sama-sama disebut riba.

“Secara hakekat, walaupun (pihak bank) menamakan hal itu qord (utang piutang), namun senyatanya bukan qord. Karena utang piutang dimaksudkan untuk tolong menolong dan berbuat baik. Transaksinya murni non komersial. Bentuknya adalah meminjamkan uang dan akan diganti beberapa waktu kemudian. Bunga bank itu sendiri adalah keuntungan dari transaksi pinjam meminjam. Oleh karena itu yang namanya bunga bank yang diambil dari pinjam-meminjam atau simpanan, itu adalah riba karena didapat dari penambahan (dalam utang piutang). Maka keuntungan dalam pinjaman dan simpanan boleh sama-sama disebut riba.” (Al Fiqh” hal. 398, terbitan Dar Blancia, cetakan pertama, 1424 H).

Dalil yang Menjelaskan Kesamaan Bunga Bank dengan Riba

وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ رِبًا لِيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلَا يَرْبُو عِنْدَ اللَّهِ وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ

“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).” (Q.S Ar-Rum : 39)

Jika kita renungi secara mendalam, sebenarnya ayat diatas telah menjelaskan definisi riba secara gamblang, dimana riba dinilai sebagai harga yang ditambahkan kepada harta atau uang yang dipinjamkan kepada orang lain. Apabila mengacu pada ayat ini, jelas bahwa bunga bank menurut islam merupakan riba. Sebagaimana Tafsir Jalalayn yang berbunyi:

“(Dan sesuatu riba atau tambahan yang kalian berikan) umpamanya sesuatu yang diberikan atau dihadiahkan kepada orang lain supaya orang lain memberi kepadanya balasan yang lebih banyak dari apa yang telah ia berikan; pengertian “sesuatu” dalam ayat ini dinamakan tambahan yang dimaksud dalam masalah muamalah” (Tafsir Jalalayn, Surat Ar-Rum:39)

Surat Ar-Rum ayat 39 juga menjelaskan bahwa Allah SWT membenci orang-orang yang melakukan riba (memberikan harta dengan maksud agar diberikan ganti yang lebih banyak). Mereka tidak akan memperoleh pahala di sisi Allah SWT, sebab perbuatannya itu dilakukan demi memperoleh keuntungan duniawi tanpa ada keikhlasan.

“Harta yang kalian berikan kepada orang-orang yang memakan riba dengan tujuan untuk menambah harta mereka, tidak suci di sisi Allah dan tidak akan diberkahi” (Tafsir Quraiys Shibab, Surat Ar-Rum: 39)

Pertemuan 5
BUNGA BANK MENURUT HUKUM ISLAM
Pendahuluan
Islam sebagai agama sempurna memberi pedoman hidup kepada umat manusia, dimana ajarannya secara garis besar mencakup ibadah khusus (mahdoh) dan masalah mu’amalah atau al-adh. Dalam menetapkan hukum bagi kedua urusan ini diperlukan kaidah yang berlainan, usul fiqh menyatakan bahwa dalam urusan ibadah (mahdoh), semua haram, kecuali bila secara pasti terdapat dalil yang memerintahkan, sedangkan dalam urusan adh (mu’amalah, semua boleh, kecuali bila secara pasti terdapat dalil yang melarangnya.
Islam ternyata agama yang juga menekankan hal kemasyarakatan. Sumber-sumber ajaran Islam adalah Al-Qur’an dan Al-sunnah untuk mendalami pemahaman menuju penerapan ajaran-ajarannya dalam realitas sosial, dan untuk memecahkan masalah-masalah yang berkembang dalam kehidupan masyarakat, diperlukan pemikiran rasional yang di sebut ijtihad.
Diantara ilmu ke Islaman yang merupakan hasil ijtihad yaitu ilmu ekonomi, yang didalamnya lain dibahas mengenai sistem perbankan. Mengapa tingkah laku ilmu ekonomi atau ilmu ekonomi berada dalam Islam? Menurut Kusyid Ahmad (1980) bahwa “Islam sebagai sumber dan pedoman tingkah laku manusia”. Dan karena tingkah laku ekonomi itu bagian dari ulah manusia juga, maka ilmu dan aktifitas yang pembahasannya meliputi sistem perbankan haruslah berada dalam Islam.
Pada zaman modern ini dalam keadaan perekonomian sudah sedemikian kompleksnya, kita melihat bahwa hampir tidak pernah terjadi kontak langsung antara pengusaha dan pemegang modal. Seorang pengusaha yang suatu ketika membutuhkan penambahan modal, ia tidak dapat dengan langsung saja meminjamnya kepada masyarakat. Hal ini disebabkan oleh kegiatan manusia untuk selalu berhati-hati terhadap keadaan yang tidak dikuasainya, terutama jika persoalan itu menyangkut harta kekayaan, yang pada suatu saat akan berguna baginya. Oleh karena itu setiap pemilik modal tidak akan bersedia meminjamkannya. Modalnya kepada pihak (orang) lain, jika ia tidak merasa pasti, bahwa modalnya itu akan aman, atau setidak-tidaknya terjaga dari kemungkinan terjadinya kerugian-kerugian yang tidak bisa di pertanggung jawabkan.
Dalam konteks inilah kemudian adanya suatu lembaga keuangan seperti bank sangat dibutuhkan. Bank dalam hal ini befungsi sebagai wakil dari pemilik modal dalam mencarikan pengusaha yang bonafit, sehingga dengan demikian dapat dipastikan bahwa penanaman modal itu tidak sia-sia. Hal ini dimungkinkan karena bank memiliki tenaga-tenaga ahli yang khusus dalam bidang ini.
Namun demikian kegiatan usaha bank tidak bisa terlepas dari bunga. Bank- bank konvensial yang ada sekarang ini tidak dapat berjalan tanpa adanya bunga.
Masalah bunga bank atau rente inilah, yang sudah sejak lama menjadi ganjalan bagi umat Islam termasuk di Indonesia, apakah bunga bank itu sama dengan ria atau tidak.

Pengertian dan Fungsi Bank
Pengertian bank sebagaimana yang tercantum dalam pasal 1 undang-undang No.14 tahun 1987, adalah “lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa-jasa dalam lalu lintas pembayaran dan peredaran uang” (Drs.Arik Mulyana dkk., tt:1)
Definisi ini kemudian diperbaharui dan dilengkapi sebagaimana yang tercantum dalam pasal 1 undang-undang No.7 tahun 1992, tentang perbankan. Pasal tersebut berfungsi “bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan, dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak” (Nopirin, ph. D. 1992 : 191).
Dari definisi ini jelas bahwa bank adalah lembaga keuangan berbentuk badan usaha yang kegiatannya menerima dan memberi. Menerima dalam arti menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan, seperti tabungan, deposito, dan giro. Memberi dalam arti bahwa dana yang diperoleh dari masyarakat itu, oleh bank disalurkan lagi kepada masyarakat yang membutuhkan, berupa pinjaman guna membiayai kegiatan investasinya. Kedua macam kegiatan tersebut diatas merupakan fungsi utama dari bank, termasuk bank-bank di Indonesia. Dalam pasal 3 undang-undang No.7 tahun 1992 tentang perbankan disebutkan “ fungsi utang perbankan Indonesia adalah sebagai penghimpun dan penyalur masyarakat”. (Nopirin. Ph. D.,1992 : 193)
Lebih jelas fungsi bank ini dapat diperinci sebagai berikut:
1. Sebagai pencipta uang
Di Indonesia monopoli penciptaan uang dipegang oleh Bank Indonesia sebagai bank sentral, dan diatur dengan undang-undang No.13 tahun 1968 tentang bank sentral disebutkan “bank mempunyai hak tunggal untuk mengeluarkan uang kertas dan uang logam” (Nopirin Ph.D 1992 : 228).
2. Sebagai penghimpun dana
Bank dapat menarik uang atau dana yang tidak produktif dari masyarakat untuk disimpan dalam beberapa bentuk :
a. Giro, yaitu : simpanan pihak ketiga pada bank yang pengambilannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro, atau surat-surat pemindahan buku lainnya.
b. Deposito, yaitu : simpanan pihak ketiga pada bank yang pengambilannya dapat dilakukan setelah jangka waktu tertentu atau setelah jatuh tempo dengan menggunakan kuitansi.
c. Tabungan, yaitu : simpanan pihak ketiga pada bank, yang penarikannya hanya dengan dilakukan menurut syarat-syarat tertentu.
3. Sebagai perantara kredit
Bank sebagai perusahaan jasa, disamping berusaha mencari dan menghimpun dana demi kelangsungan usahanya, juga berusaha memanfaatkan dana yang diperoleh dari masyarakat tersebut, dengan meminjamkan kepada masyarakat yang membutuhkannya, dengan syarat-syarat tertentu, maka dalam hal ini bank menjadi perantara antara masyarakat penyimpanan dengan masyarakat penerima kredit.
4. Sebagai pemberi jasa
Disamping sebagai perantara kredit, bank juga dapat memberikan jasa sebagai perantara atau penghubung antara nasabah yang satu dengan nasabah yang lain. Jika keduanya melakukan transaksi dengan menggunakan cek. Jasa-jasa yang diberikan antara lain :
a. Pengiriman uang (transfer)
b. Jual beli saham atau valuta asing
c. Menagih uang atas nama langganan (inkaso)
d. Penyimpanan barang–barang serta surat-surat berharga dalam safe deposit box. (Drs.Atik Mulyana dkk. tt, 7-8)
Apabila kita perhatikan fungsi bank seperti yang dikemukakan di atas, maka kita sepakat bahwa bank itu betul-betul sangat bermanfaat bagi masyarakat. Akan tetapi oleh karena bank, seperti telah penulis kemukakan dalam pendahuluan, dalam usahanya memungut bunga, maka timbullah keragu-raguan di hati sebagian masyarakat Islam untuk berhubungan dengan bank. Apa yang dimaksud dengan bunga, dan bagaimana pandangan para ahli tentang bunga uang ini, akan kita bicarakan dalam uraian berikut ini.

Leave a Reply