iLearning OK!!!

Just another iMe (iLearning Media) site

By

Essay: Tugas 6

Pertemuan 6
Bunga Bank

Bunga adalah kelebihan yang harus dibayar oleh peminjam kepada bank, atau yang diberikan oleh bank kepada penyimpan. Apabila kita telusuri sejarahnya, maka akan kita temukan berbagai teori dan pandangan mengenai bunga uang ini.
Di kalangan bangsa Yunani kuno, praktek peminjaman uang dengan memungut bunga, dilarang keras. Aristoteles, filasat Yunani yang sangat terkenal, yang mempunyai pengaruh besar pada generasi-generasi sesudahnya, secara tegas mengutuk sistem pembungaan uang. Dia menyebut unag sebagai ayam betina yang mandul dan tidak bertelur. Menurut Aristoteles, fungsi uang yang utama adalah untuk mempermudah perdagangan, dan dengan demikian mempermudah manusia memenuhi kebutuhannya. Uang tidak bisa digunakan sebagai alat untuk menumpuk-numpuk kekayaan apalagi memperanakkannya. Demikian juga Plato mengutuk praktek pembungaan uang (Qureshi,1985:42)
Kerajaan Romawi pada mulanya juga melarang setiap jenis pemungutan bunga atas uang. Tetapi kemudian dengan bertambah luasnya kerajaan dan mulai munculnya kelas-kelas pedagang dalam masyarakat, timbullah praktek-praktek pembungaan uang. Tetapi pihak kerajaan (pemerintah) kemudian membuat undang-undang guna membatasi besarnya suku bunga dan untuk melindungi para peminjam (ibid : 43)
Pada abad pertengahan, pembayaran bunga atas pinjaman uang disebut riba, dan pemungutan riba dilarang keras oleh undang-undang Negara. Pada masa itu pengaruh gereja sangat kuat, sehingga larangan undang-undang itu juga di anggap sebagai larangan dari agama (ibad :

Setelah lewat abad ke-13, pengaruh gereja mulai kendor. Karena timbulnya aliran reformist, yang dipimpin oleh Martin Luther dan Zwingle. Seiring dengan lemahnya pengaruh gereja ini, maka peminjam uang dengan dipungut bunga mulai diterima oleh masyarakat. Karena pandangan masyarakat mulai longgar terhadap pemungutan bunga ini, maka nafsu serakah ingin memiliki hal yang buruk di masyarakat. Akhirnya larangan terhadap riba dikeluarkan di Eropa. Di Inggris larangan ini dikeluarkan lagi pada tahun 1545, pada masa pemerintahan Henry ke-VIII. Pada saat itulah istilah riba diganti dengan istilah “bunga”.
Pada zaman Merkantilis (1500-1700), kaum Merkantilis beranggapan uang itu sama dengan modal. Bagi mereka uang merupakan suatu faktor produksi, seperti halnya tanah. Menurut mereka “bunga modal” adalah pembayaran yang diterima sebagi sewa modal, dan sama halnya dengan uang yang diterima dari sewa tanah (Qureslm, 1985 : 46).
Pada awal perkembangannya kaum Merkantilis menetapkan suku bunga yang rendah, guna mendorong perdagangan. Akan tetapi kira-kira tahun 1668 timbul pertentangan faham mengenai riba. Sir Thomas Elupeper dan anaknya, serta didukung oleh Sir Josiah Child, mempertahankan dipeliharanya suku bunga yang rendah, karena hal itu dianggap sebagai sumber kemakmuran kemajuan industri. Sebaliknya beberapa sarjana lain, seperti Thomas Manley, berpendapat bahwa penyebab tingginya suku bunga ialah karena terbatasnya jumlah uang dan banyaknya peminjam. Dengan demikian apabila uang lebih banyak dan peminjam lebih sedikit, maka suku bunga akan turun. Jhon Loeke juga berpendapat bahwa suku bunga yang rendah adalah sebagai akibat dari persediaan uang yang berlimpah. Sir Dudly Hort pada akhir abad pertengahan berpendapat bahwa karena persediaan barang dan surat berharga yang berlimpah–limpah di negeri Belanda, maka bunga menjadi rendah (Qureshi, 1985 :46-48).
Dalam membicarakan teori tentang bunga uang ini kita tidak dapat melupakan madzhab klasik, karena madzhab ini merupakan mazhab yang paling terkemuka dalam ilmu ekonomi, dan ajarannya banyak dipelajari di beberapa perguruan tinggi negara-negara persemakmuran. Tokoh-tokoh dari mazhab klasik ini adalah Adam Smith, Robert Thomas Malthus, dan Ricardo. Mazhab kalisk kemudian dikembangkan menjadi mazhab Neo klasik oleh tokoh-tokoh seperti Jhon Stuart Mill, Edgeworth, Marshall, dan Pigue.
Menurut Smith dan Ricardo, bunga uang merupakan suatu ganti rugi yang diberikan oleh peminjam kepada pemilik uang atas keuntungan yang mungkin diperolehnya dari pemakaian uang tersebut. Kedua ahli ekonomi ini tidak membeda-bedakan secara tegas antara bunga uang dengan keuntungan bunga kotor. Adam Smith menggunakan istilah “stock capital” (persediaan modal), untuk sebagian harta kekayaan seseorang yang tidak dipergunakan untuk konsumsi mereka, tetapi diolahnya lebih jauh dalam produksi, guna menghasilkan uang, hadiah, atau laba.

Penumpukan barang atau modal, berakibat ditundanya pemenuhan kebutuhan lain, dan orang tidak akan berbuat demikian apabila mereka tidak mengharapkan sesuatu hasil yang lebih baik dari pengorbanan yang telah mereka lakukan. Oleh kerena itu kedua tokoh ini (Adam smith dan Ricardo) berpendapat, bunga adalah hadiah atau balas jasa yang diberikan kepada seseorang, kerena ia telah bersedia menunda pemenuhan kebutuhannya (Qureshi, 1985 :48-49).
Ahli ekonomi klasik generasi kedua (Neo klasik) seperti Marshel berpendapat bahwa, bahwa suku bunga dan tabungan saling berhubungan. Oleh karena itu suku bunga adalah salah satu faktor terpenting yang mengatur volume tabungan. Makin tinggi suku bunga, makin besar pula imbalan menabung, dan demikian pula sebaliknya.
Akan tetapi analisis mazhab klasik ini dikritik dan ditolak oleh seorang ahli ekonomi kapitalis terkenal, yaitu Lord Keynes. Dia meragukan kemanjuran suku bunga dalam mempengaruhi volume tabungan. Dia (Keynes) mengemukakan bahwa sebenarnya volume tabungan tergantung volume investasi yang dilakukan oleh masyarakat bisnis. Justru suku bunga yang tinggi cenderung mengurangi investasi.

BUNGA UANG DAN RIBA
Pada zaman pertengahan, istilah riba diganti dengan “bunga”, untuk memperlunak istilah tindakan manusia yang berhubungan dengan pinjaman uang. Penggantian istilah ini menimbulkan kekaburan dan mempengaruhi persepsi masyarakat, termasuk masyarakat Islam, sehingga banyak diantara mereka yang ragu apakah bunga, apalagi bunga bank termasuk riba atau tidak. Sampai saat ini para sarjana dan ulama Islam belum mampu mencapai kata sepakat mengenai masalah ini.
Kebanyakan para ulama seperti Al-Maududi, Sayid Qutub, Mahmud Abu Su,ud dan beberapa ulama yang lain berpendapat bahwa bunga bank itu hukumnya haram, karena sama dengan riba. Sementara beberapa ulama lain seperti A.Hasan dari Indonesia dan Mahmud Syaltout berpendapat bahwa bunga bank khususnya bunga tabungan, hukumnya halal. Syaltout, sebagaimana di kutip oleh Drs. Syabirin Harahap (1984 : 118) mengatakan :
“Sesuai dengan hukum-hukum Islam dan kaidah-kaidah fiqh yang betul maka kami berpendapat keuntungan bank tabungan POS itu halal, dan tidak ada keharaman padanya. Karena uang yang dititipkan itu bukanlah pemiliknya meminjamkan kepada bank tabungan POS dan bukan pula bank tabungan POS meminjam dari pemiliknya.”
Di Indonesia mengenai bunga uang ini, Majlis Tarjih (ulama) Muhamadiyah dalam Mu’tamarnya tanggal 2-6 jumadil awal/ 27-31 Juli 1968 memutuskan sebagai berikut :
Riba hukumnya haram, dengan nash sharih Qur’an dan sunnah
1. Bank dengan sistem riba hukumnya haram dan bank tanpa riba hukumnya halal.
2. Bunga yang diberikan oleh bank-bank milik Negara kepada nasabahnya atau sebaliknya yang selama ini berlaku termasuk perkara musytabihat, ialah setiap perkara yang masih diragukan hukumnya. Yakni belum diketahui dengan jelas apa ia haram atau halal.

Namun dalam hukum Islam, pemakan riba adalah si pemilik harta yang memberi pinjaman kepada orang yang meminjamnya, dengan meminta pengembalian lebih dari pinjaman pokoknya. Orang yang demikian ini tidak diragukan lagi dikutuk oleh Allah dan semua manusia. Akan tetapi, Islam sesuai sunnahnya dalam mengharamkan sesuatu tidak hanya membatasi dosa itu pada orang yang memakan riba saja, melainkan sama pula dosanya bagi orang yang memberi makan riba (peminjam yang memberikan bunga), penulis, dan dua orang saksinya.

Rasulullah SAW. Bersabda dalam hadistnya:
“Allah melaknat pemakan riba, orang yang memberi makan riba, dua orang saksi, dan penulisnya.” (H.R: Ahmad dan Abu Daud).

By

Essay: Tugas 5

Hukum Bunga Bank Dalam Pandangan Islam

Dalam Al-Quran, hukum melakukan riba sudah jelas dilarang Allah SWT. Begitupun dengan bunga bank, dalam praktiknya sistem pemberian bunga di perbankan konvensional cenderung menyerupai riba, yaitu melipatgandakan pembayaran. Padahal dalam islam hukum hutang-piutang haruslah sama antara uang dipinjamkan dengan dibayarkan. (Baca juga: Pinjaman Dalam Islam- Hukum dan Ketentuannya dan Hutang Dalam Pandangan Islam)

Pandangan ini sesuai dengan penjelasan Syaikh Sholih bin Ghonim As Sadlan. Beliau menjelaskan dalam kitab fiqihnya yang berjudul “Taysir Al Fiqh”, seorang Mufti Saudi Arabia bernama Syaikh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah mengemukakan bahwa pinjaman yang diberikan oleh bank dengan tambahan (bunga) tertentu sama-sama disebut riba.

“Secara hakekat, walaupun (pihak bank) menamakan hal itu qord (utang piutang), namun senyatanya bukan qord. Karena utang piutang dimaksudkan untuk tolong menolong dan berbuat baik. Transaksinya murni non komersial. Bentuknya adalah meminjamkan uang dan akan diganti beberapa waktu kemudian. Bunga bank itu sendiri adalah keuntungan dari transaksi pinjam meminjam. Oleh karena itu yang namanya bunga bank yang diambil dari pinjam-meminjam atau simpanan, itu adalah riba karena didapat dari penambahan (dalam utang piutang). Maka keuntungan dalam pinjaman dan simpanan boleh sama-sama disebut riba.” (Al Fiqh” hal. 398, terbitan Dar Blancia, cetakan pertama, 1424 H).

Dalil yang Menjelaskan Kesamaan Bunga Bank dengan Riba

وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ رِبًا لِيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلَا يَرْبُو عِنْدَ اللَّهِ وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ

“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).” (Q.S Ar-Rum : 39)

Jika kita renungi secara mendalam, sebenarnya ayat diatas telah menjelaskan definisi riba secara gamblang, dimana riba dinilai sebagai harga yang ditambahkan kepada harta atau uang yang dipinjamkan kepada orang lain. Apabila mengacu pada ayat ini, jelas bahwa bunga bank menurut islam merupakan riba. Sebagaimana Tafsir Jalalayn yang berbunyi:

“(Dan sesuatu riba atau tambahan yang kalian berikan) umpamanya sesuatu yang diberikan atau dihadiahkan kepada orang lain supaya orang lain memberi kepadanya balasan yang lebih banyak dari apa yang telah ia berikan; pengertian “sesuatu” dalam ayat ini dinamakan tambahan yang dimaksud dalam masalah muamalah” (Tafsir Jalalayn, Surat Ar-Rum:39)

Surat Ar-Rum ayat 39 juga menjelaskan bahwa Allah SWT membenci orang-orang yang melakukan riba (memberikan harta dengan maksud agar diberikan ganti yang lebih banyak). Mereka tidak akan memperoleh pahala di sisi Allah SWT, sebab perbuatannya itu dilakukan demi memperoleh keuntungan duniawi tanpa ada keikhlasan.

“Harta yang kalian berikan kepada orang-orang yang memakan riba dengan tujuan untuk menambah harta mereka, tidak suci di sisi Allah dan tidak akan diberkahi” (Tafsir Quraiys Shibab, Surat Ar-Rum: 39)

Pertemuan 5
BUNGA BANK MENURUT HUKUM ISLAM
Pendahuluan
Islam sebagai agama sempurna memberi pedoman hidup kepada umat manusia, dimana ajarannya secara garis besar mencakup ibadah khusus (mahdoh) dan masalah mu’amalah atau al-adh. Dalam menetapkan hukum bagi kedua urusan ini diperlukan kaidah yang berlainan, usul fiqh menyatakan bahwa dalam urusan ibadah (mahdoh), semua haram, kecuali bila secara pasti terdapat dalil yang memerintahkan, sedangkan dalam urusan adh (mu’amalah, semua boleh, kecuali bila secara pasti terdapat dalil yang melarangnya.
Islam ternyata agama yang juga menekankan hal kemasyarakatan. Sumber-sumber ajaran Islam adalah Al-Qur’an dan Al-sunnah untuk mendalami pemahaman menuju penerapan ajaran-ajarannya dalam realitas sosial, dan untuk memecahkan masalah-masalah yang berkembang dalam kehidupan masyarakat, diperlukan pemikiran rasional yang di sebut ijtihad.
Diantara ilmu ke Islaman yang merupakan hasil ijtihad yaitu ilmu ekonomi, yang didalamnya lain dibahas mengenai sistem perbankan. Mengapa tingkah laku ilmu ekonomi atau ilmu ekonomi berada dalam Islam? Menurut Kusyid Ahmad (1980) bahwa “Islam sebagai sumber dan pedoman tingkah laku manusia”. Dan karena tingkah laku ekonomi itu bagian dari ulah manusia juga, maka ilmu dan aktifitas yang pembahasannya meliputi sistem perbankan haruslah berada dalam Islam.
Pada zaman modern ini dalam keadaan perekonomian sudah sedemikian kompleksnya, kita melihat bahwa hampir tidak pernah terjadi kontak langsung antara pengusaha dan pemegang modal. Seorang pengusaha yang suatu ketika membutuhkan penambahan modal, ia tidak dapat dengan langsung saja meminjamnya kepada masyarakat. Hal ini disebabkan oleh kegiatan manusia untuk selalu berhati-hati terhadap keadaan yang tidak dikuasainya, terutama jika persoalan itu menyangkut harta kekayaan, yang pada suatu saat akan berguna baginya. Oleh karena itu setiap pemilik modal tidak akan bersedia meminjamkannya. Modalnya kepada pihak (orang) lain, jika ia tidak merasa pasti, bahwa modalnya itu akan aman, atau setidak-tidaknya terjaga dari kemungkinan terjadinya kerugian-kerugian yang tidak bisa di pertanggung jawabkan.
Dalam konteks inilah kemudian adanya suatu lembaga keuangan seperti bank sangat dibutuhkan. Bank dalam hal ini befungsi sebagai wakil dari pemilik modal dalam mencarikan pengusaha yang bonafit, sehingga dengan demikian dapat dipastikan bahwa penanaman modal itu tidak sia-sia. Hal ini dimungkinkan karena bank memiliki tenaga-tenaga ahli yang khusus dalam bidang ini.
Namun demikian kegiatan usaha bank tidak bisa terlepas dari bunga. Bank- bank konvensial yang ada sekarang ini tidak dapat berjalan tanpa adanya bunga.
Masalah bunga bank atau rente inilah, yang sudah sejak lama menjadi ganjalan bagi umat Islam termasuk di Indonesia, apakah bunga bank itu sama dengan ria atau tidak.

Pengertian dan Fungsi Bank
Pengertian bank sebagaimana yang tercantum dalam pasal 1 undang-undang No.14 tahun 1987, adalah “lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa-jasa dalam lalu lintas pembayaran dan peredaran uang” (Drs.Arik Mulyana dkk., tt:1)
Definisi ini kemudian diperbaharui dan dilengkapi sebagaimana yang tercantum dalam pasal 1 undang-undang No.7 tahun 1992, tentang perbankan. Pasal tersebut berfungsi “bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan, dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak” (Nopirin, ph. D. 1992 : 191).
Dari definisi ini jelas bahwa bank adalah lembaga keuangan berbentuk badan usaha yang kegiatannya menerima dan memberi. Menerima dalam arti menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan, seperti tabungan, deposito, dan giro. Memberi dalam arti bahwa dana yang diperoleh dari masyarakat itu, oleh bank disalurkan lagi kepada masyarakat yang membutuhkan, berupa pinjaman guna membiayai kegiatan investasinya. Kedua macam kegiatan tersebut diatas merupakan fungsi utama dari bank, termasuk bank-bank di Indonesia. Dalam pasal 3 undang-undang No.7 tahun 1992 tentang perbankan disebutkan “ fungsi utang perbankan Indonesia adalah sebagai penghimpun dan penyalur masyarakat”. (Nopirin. Ph. D.,1992 : 193)
Lebih jelas fungsi bank ini dapat diperinci sebagai berikut:
1. Sebagai pencipta uang
Di Indonesia monopoli penciptaan uang dipegang oleh Bank Indonesia sebagai bank sentral, dan diatur dengan undang-undang No.13 tahun 1968 tentang bank sentral disebutkan “bank mempunyai hak tunggal untuk mengeluarkan uang kertas dan uang logam” (Nopirin Ph.D 1992 : 228).
2. Sebagai penghimpun dana
Bank dapat menarik uang atau dana yang tidak produktif dari masyarakat untuk disimpan dalam beberapa bentuk :
a. Giro, yaitu : simpanan pihak ketiga pada bank yang pengambilannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro, atau surat-surat pemindahan buku lainnya.
b. Deposito, yaitu : simpanan pihak ketiga pada bank yang pengambilannya dapat dilakukan setelah jangka waktu tertentu atau setelah jatuh tempo dengan menggunakan kuitansi.
c. Tabungan, yaitu : simpanan pihak ketiga pada bank, yang penarikannya hanya dengan dilakukan menurut syarat-syarat tertentu.
3. Sebagai perantara kredit
Bank sebagai perusahaan jasa, disamping berusaha mencari dan menghimpun dana demi kelangsungan usahanya, juga berusaha memanfaatkan dana yang diperoleh dari masyarakat tersebut, dengan meminjamkan kepada masyarakat yang membutuhkannya, dengan syarat-syarat tertentu, maka dalam hal ini bank menjadi perantara antara masyarakat penyimpanan dengan masyarakat penerima kredit.
4. Sebagai pemberi jasa
Disamping sebagai perantara kredit, bank juga dapat memberikan jasa sebagai perantara atau penghubung antara nasabah yang satu dengan nasabah yang lain. Jika keduanya melakukan transaksi dengan menggunakan cek. Jasa-jasa yang diberikan antara lain :
a. Pengiriman uang (transfer)
b. Jual beli saham atau valuta asing
c. Menagih uang atas nama langganan (inkaso)
d. Penyimpanan barang–barang serta surat-surat berharga dalam safe deposit box. (Drs.Atik Mulyana dkk. tt, 7-8)
Apabila kita perhatikan fungsi bank seperti yang dikemukakan di atas, maka kita sepakat bahwa bank itu betul-betul sangat bermanfaat bagi masyarakat. Akan tetapi oleh karena bank, seperti telah penulis kemukakan dalam pendahuluan, dalam usahanya memungut bunga, maka timbullah keragu-raguan di hati sebagian masyarakat Islam untuk berhubungan dengan bank. Apa yang dimaksud dengan bunga, dan bagaimana pandangan para ahli tentang bunga uang ini, akan kita bicarakan dalam uraian berikut ini.